Tampilkan postingan dengan label spot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spot. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Maret 2019

CASTING TOMAN DI PULAU KUMALA






Ditulis Oleh : Yayank Innal

Sebenarnya tour ini sudah sering dilakukan oleh Youngs Fisher Adventure’s Team (YFAT) jika tidak mempunyai waktu untuk melakukan tour keluar kota. Dari pada kelamaan gak tour, Yudi dan Innal mencoba peruntungannya pada tanggal 9 November 2007 untuk menggilat ikan toman di Pulau Kumala. Dan pada tanggal 2 desember 2007 YFAT kembali mencoba menggilat ikan toman dengan tambahan personil yakni Nata D Coco, Pak Yong, dan Eenkids.
Pada trip pertama (2 Des 07) kami berangkat sekitar pukul 1 siang, dan langsung menuju penyeberangan Karyawan Pulau Kumala tepatnya disamping bangunan Genset Pulau Kumala. Dengan tarif sekitar Rp.2500,- per orang, kami sudah dapat menyeberang ke Pulau Kumala dengan sarana Ketinting. Sekitar 2 menit kami sudah sampai di Dermaga Pulau Kumala, dan membeli tiket masuk seharga Rp.2000,- per orang. Tidak lupa kami membawa bekal minuman dingin serta rokok, karena di Pulau Kumala warung agak berjauhan dengan Kolam Pesut yang nantinya akan kami datangi.
Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami akhirnya tiba di kolam pesut dan langsung mengeset pancing. Kami sengaja memakai umpan jenis Uepro yang bertipe menyelam ke dalam air untuk mencoba menarik perhatian ikan toman. Saya dan Yudi mengambil spot di samping kiri kolam, karena kelihatannya banyak sebatan ikan yang mungkin akan menjadi santapan ikan toman. Masing - masing melempar umpan, dan ditarik dengan berbagai cara, saya yang baru - baru saja mengenal trik ini, hanya menarik dengan kecepatan yang berubah - ubah, kadang - kadang cepat, kadang - kadang juga lambat. Sekitar 1 jam menggilat, hasilnya nihil. Sedangkan cuaca dari arah tenggarong seberang sudah terlihat mendung, dan sekitar 30 menit berlalu hujan pun turun dengan lebat. Untung di Kolam Pesut ada semacam tempat yang nantinya akan digunakan oleh pengunjung berteduh atau sekedar minum untuk menjadi tempat bernaung kami.
Sekitar 1 jam lebih menunggu hujan reda, kami kembali melempar umpan masing - masing. Setelah 2 kali melempar umpan, pada lemparan ke 3 saya berhasil strike. Pada awalnya perlawanan ikan ini lumayan mantap, saya pun mengendurkan setelan drag supaya pertarungan dengan ikan toman ini agak lama. Akan tetapi selang 5 menit perlawanan dari ikan toman ini terasa mengendur drastis, walhasil saya pun menarik ikan dengan mudah. Rekan Yudi membantu saya menangkap ikan toman yang berukuran kurang lebih 1 kilo ini dengan menggunakan gancu kecil yang didesain sendiri oleh Yudi. Yap, ikan sudah mendarat ditempat aman. Yudi yang dari tadi belum mendapat strike dari ikan toman, akhirnya menurunkan set pancing ringan untuk memancing ikan salap yang lumayan banyak di Kolam Pesut ini. Sambil menunggu strike dari ikan salap, yudi pun masih getol menggilat toman. Saya pun mencoba memutari kolam, karena di spot pertama sudah berulang kali melempar umpan, hasilnya nihil.
Hingga sampai pada pukul 6 sore kami tidak berhasil mendapatkan ikan toman lagi, berbalik dengan ikan salap yang selalu rajin memakan umpan kami. Karena sudah hampir maghrib, kami pun memutuskan pulang.
Di trip kedua, pada tanggal 2 desember 2007, Eenkid yang merupakan adik dari yudi dan pak yong datang dari jogja dalam rangka menyambut orang tua (H. Hermain, DBA) datang dari menunaikan ibadah Haji. Rencananya sebenarnya adalah ingin memancing di laut, namun karena gelombang masih tinggi yang disebabkan angin barat, akhirnya rencana itu batal dan diganti dengan refreshing sekaligus mancing di Kolam Pesut, Pulau Kumala.... (Lagi).
Sekitar jam 11 siang kami berangkat ke penyeberangan Pulau Kumala, sesampainya di Kolam Pesut, kamipun mengeset pancing masing - masing dan berpencar. Pak yong di sudut tengah, yudi dan saya di sisi kiri kolam, sedangkan eenkid dan nata di sisi kanan kolam. Masing - masing melemparkan umpan ke kolam, tarik...... Lempar ...... Tarik ...... Lempar......! Begitulah yang terjadi secara terus menerus. Namun lain lagi dengan eenkid dan nata, tekniknya adalah : Tarik ...... Lempar ...... Pindah ...... Tarik ....... Lempar ...... Pindah......! Sehingga dalam waktu 10 menit mereka selalu mengeksplor satu spot dengan seksama, namun hasilnya nihil. Sedangkan pak yong dan yudi asyik menggilat dengan diselingi mancing ikan salap. Yah lumayan lah, ada strike dan menghilangkan tangan yang gatal karena lama belum strike. Hal ini berlangsung cukup lama, disaat yudi dan pak yong asyik “menyintak” ikan salap, yang laen tetap dengan idealisme mereka, (karena juga pancingan ikan salap nggak dibawa semua, alias cuman untuk menggilat doang, mau apa lagi?).
Waktu yang semakin sore, membuat beberapa personel patah semangat, yudi kini getol mancing ikan salap, pak yong masih menyempatkan menggilat sekali - kali diselang mancing ikan salap, nata pun sudah kembali keperaduan (ngumpul ditengah kolam setelah sukses tawaf mengelilingi kolam dengan hasil “nade”) sayapun bernasib sama. Hanya eenkid yang getol menggilat, dan posisinya kini sudah 50 % tawaf, alias kini ditengah - tengah kolam sambil sesekali berhenti untuk merokok. Pak yong yang sudah beberapa kali memanggil - manggil rekan - rekan untuk bersiap - siap lengser ke rumah, sudah mengurangi pancingnya, nata, yudi, dan saya apalagi, sudah beres - beres. Namun disaat itu juga, dari arah tengah kolam, “strike....!” Eenkid ternyata berhasil menggilat toman, dan rekan - rekan yang laen asyik memberi arahan dan komando (karena eenkid jarang sekali memancing, alias pemula). Nata yang sedang semangat langsung mengambil kamera dan berlari secepat mungkin, disusul yudi yang ikut lari estafet (namun sempat 2 kali berhenti karena kelelahan). Sedangkan eenkid asyik bertarung dengan ikan toman tersebut, sesekali pak yong berteriak memberi arahan yang cukup menusuk sanubari eenkid. Saya cukup memberi semangat dari jauh saja, maklum si junior kebetulan ikut, jadi nggak bisa jauh - jauh. Setelah yudi dan nata sampai di tempat, yudi langsung turun ke pinggir kolam untuk menangkap ikan toman tersebut. Karena tidak membawa gancu, akhirnya dengan “ilmu” yang ada, yudi menangkap ikan toman yang sudah kelelahan dengan kedua tangan dan langsung melemparkan ke daratan. Berhasil.....!!!
Dengan penuh suka cita eenkid melampiaskan rasa senangnya, hal ini berlanjut pada saat pulang. Karena juga sudah mau masuk waktu sholat maghrib kami pun beranjak pulang. Eenkid tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya disepanjang perjalanan pulang, yang laen termasuk saya hanya merasa kosong, karena tidak berhasil menggilat ikan toman. Next time, we’ll back... It’s just a beginner luck..! He he he...
Source : http://yfatkukar.blogspot.com
Ganasnya perlawanan toman monster danau Gelinggang, di Jantung Borneo

Ganasnya perlawanan toman monster danau Gelinggang, di Jantung Borneo


Ganasnya perlawanan toman monster danau Gelinggang, di Jantung Borneo


Apa yang terlintas di pikiran para pemancing ketika mendengar kata “Borneo”? Tentu saja selain keindahan alamnya, juga karena potensi perikanan air tawar nya yang masih terjaga.
Di Indonesia sendiri khususnya di dunia freshwater fishing, Kalimantan terkenal akan surganya ikan air tawar seperti ikan predator Toman, Gabus, Kerandang, Lais Tembiring bahkan Tapah yang merupakan spesies ikan yang diburu para angler untuk memuaskan hobi memancingnya.
Di provinsi Kalimantan Tengah – lebih tepatnya di daerah Sukamara, terdapat satu spot memancing yang cukup potensial bernama danau Gelinggang. Danau Gelinggang sendiri merupakan danau alami yang sudah lama menjadi tempat bagi nelayan dan warga sekitar untuk mencari nafkah dengan cara mencari ikan, lalu menjualnya di pasar-pasar tradisional.

Cita satelit danau gelinggang sukamara
Cita satelit danau gelinggang sukamara
Eksotisnya alam liar di Jantung Borneo
Eksotisnya alam liar di Jantung Borneo (foto dok. Transmedia)

Spot yang potensial dan terjaga dari bahaya pemakaian racun dan penyetruman ikan inilah yang menjadi Jackpot bagi para pecinta sportfishing – khususnya penggemar mancing dengan tekhnik casting untuk memburu ikan-ikan predator air tawar seperti Toman.
Keberadaan ikan Toman di danau alami ini masih terbilang cukup banyak dan juga berbobot monster (babon).  Sehingga menjadi salah satu spot favorit bagi para castinger di provinsi Kalimantan Tengah maupun para angler dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, medan dan banyak kota lainnya pernah merasakan sensasi tarikan babon Toman di spot yang terbilang masih alami ini.
Namun bagaimanakah cara kita untuk menuju ke spot tersebut? Spotmancing.com kali ini akan mengulas bagaimana dan moda transportasi apa saja yang bisa para angler nusantara gunakan untuk menuju ke Sukamara Kalimantan Tengah.
Para angler dari Kalimantan Tengah tentunya bisa menjangkau danau Gelinggang dengan moda transportasi darat. Namun jika para angler berasal dari luar Kalimantan Tengah semisal dari pulau jawa, maka moda transportasi udara atau pesawat terbang adalah salah satu pilihan praktis untuk menuju Pangkalan Bun selain moda transportasi kapal laut.
Pesawat dengan rute penerbangan dari dan menuju Pangkalan Bun sekarang sudah banyak beroperasi. Maskapai udara seperti Trigana air, Kalstar dan juga Lion Air sudah melayani penerbangan langsung dari kota-kota besar di pulau jawa seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya, hampir setiap hari melayani penumpang dengan tujuan Bandara Iskandar di Kota Pangkalan Bun.
Sesampainya di Bandara Iskandar para angler tidak perlu khawatir akan sulitnya melanjutkan perjalanan ke Sukamara karena banyak moda transportasi darat seperti travel, taksi dan juga mobil pribadi yang secara khusus disewakan bagi penumpang yang ingin menuju ke beberapa daerah di Kalimantan Tengah dengan tarif kurang lebih Rp 100.000-Rp 200.000.

Pemandangan menuju spot Danau Gelinggang dengan menggunakan perahu
Pemandangan menuju spot Danau Gelinggang dengan menggunakan perahu (foto dok. Transmedia)

Perjalanan dari bandara Iskandar Pangakalan Bun memakan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan darat. Sesampainya di Sukamara kita sudah bisa memesan perahu-perahu nelayan lokal yang bersedia mengantarkan kita mengeksplorasi Danau Gelinggang dengan waktu tempuh selama lebih kurang 1 jam perjalanan menggunakan perahu bermesin tempel.
Untuk tarif sewa perahunya sendiri sebesar Rp 750.000 ( tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) untuk sehari pemakaian ( 12 jam ) dan perahu bisa diisi oleh 3 orang pemancing yang tentunya didampingi oleh tekong(nelayan) yang sudah paham betul dimana saja titik-titik potensial ikan Toman bersarang di danau Gelinggang tersebut.
Joni Iskandar -seorang angler Asli Sukamara menuturkan jika potensi ikan-ikan predator seperti Toman di danau Gelinggang masih potensial dan size-nya juga terbilang besar sehingga banyak para pemancing dari kota-kota besar datang ke Sukamara untuk membuktikan rasa penasaran mereka akan legenda Toman dananu Gelinggang.

Om Joni Iskandar dengan strike toman monster di Danau Gelinggang
Om Joni Iskandar dengan strike toman monster di Danau Gelinggang

Lebih lanjut Joni Iskandar menambahkan jika debit air danau Gelinggang sedang naik bisa dipastikan ikan Toman sedang ganas-ganasnya dan momen inilah yang selalu ditunggu oleh para castinger pemburu Toman.

Pemilihan piranti mancing yang cocok merupakan kunci keberhasilan seorang angler sekaligus menghindari keboncosan saat memancing. Untuk hal yang satu ini, Joni Iskandar tidak segan memberikan beberapa tips pemilihan piranti mancing yang cocok digunakan di Danau Gelinggang untuk menaklukkan sang predator Toman.
Joran tipe spinning maupun baitcasting dengan line test 10-20 lbs dan panjang minimal 180 cm, reel type baitcasting atau spinning (opsional) dan lure tipe Spinner Bait dan Senar PE ukuran 1-3 merupakan komposisi tackle yang balance (seimbang) digunakan di spot danau Gelinggang.
Pemilihan lure tipe Spinner Bait juga dianjurkan karena beberapa titik-titik dimana Toman bersarang memiliki kedalaman air setinggi 3-5 meter sehingga Spinner Bait yang termasuk tipe fast sinking( cepat tenggelam) cukup ideal digunakan untuk mengganggu dan mengusik keberadaan Toman di bawah air.
Bagaimana angler, penasaran dengan legenda monster Toman danau Gelinggang Sukamara? Rajin-rajinlah mengecek situs tiket online, bukan tidak mungkin beberapa maskapai penerbangan memberikan harga promo di waktu yang tidak terduga.
Untuk info silakan menghubungi Om Joni Iskandar lewat akun FB seperti yang sudah dicantumkan di atas. Berangkaaaat…!!!

Casting Toman di Indonesia

Casting Toman di Indonesia

Seekor Ikan toman merupakan spesies air tawar yang sangat banyak menarik minat para pemancing di Indonesia. Keasyikannya adalah pada besar dan buasnya ikan toman tersebut dalam menyahut umpan yang bergerak-gerak
Casting Toman di daerah Kalimantan

Ikan toman yang dalam bahasa kerennya adalah snakehead memiliki ciri besar, lonjjong, sisik yang ada belang hitam putih atau hitam. Suka hidup di rawa dan termasuk pemakan daging. Gerakannya lemah gemulai seperti ular menambah daya tarik tatkala menarik umpan popper atau minnow atau froggy yang dilempar.
lokasi spot mancing ikan toman
Hulu Sungai Mahakam Cantik Untuk Casting Toman

Cara Mancing Toman dengan casting

Cara mancing toman pada saat ini cenderung dengan cara teknik casting. Casting itu meliputi joran stik yang ringnya terletak di atas, reel seat berbentuk ada tanduknya. Selanjutnya umpan yang digunakan untuk casting toman tersebut juga kudu memenuhi syarat supaya disebut sebagai cara casting.

Umpan untuk mancing toman itu kalau pada beberapa waktu lampau masih bisa menggunakan umpan hidup seperti katak, ikan kecil, jangkrik dan sejenisnya. Namun kini dengan peralatan pancing yang bagus, maka tidak perlu lagi umpan hidup. Sebab dirasa kurang simpel sih...

Memancing ikan gabus (sebutan lain lagi buat toman) dirasa lebih enjoy dengan umpan mati, yakni froggy atau katak-katakan, popper lure , minnow dan sejenisnya. Dengan reel casting, semua umpan tersebut bisa digunakan secara serempak dan enjoy.

Foto Bentuk Joran Casting Toman










Seringkali event castinger berkumpul di beberapa tempat untuk menyelaraskan hobi dan bertemu secara kopi darat agar saling mengikat persaudaraan. Tak lupa yang terpenting dari itu semuanya adalah pemerataan pengetahuan tentang dunia casting toman di Indonesia.

Ada Lagi Tips dan Trik Mancing Casting Toman Dari Fishyforum

Sumber : Aji Subhan Fahroni dari Tenggarong, Kutai Kertanegara, kalimantan Timur. www.fishyforum.com

Sebelumnya saya mencoba teori Tackle Balance:

1.Casting Heavy Tackle

- Reel: Spinning, Sabpolo 3000, Drag Max ±7 kg, Drag yg dipake 2-3.5 kg (30-50% dr Drag Max Reel)
- Rod: Pioneer Perpect Cast 7’, 8-10 kg
- Line: PE Paladium Colour 20 lbs, (±120% kekuatan Rod) & ( lebih besar ±3x lipat dr Drag yg dipake)
- Leader: Awashima Hypercast C+, 0.35 mm, 15.4 kg
- PE-Leader: FG Knot
- Leader-Lures: Kili2-Peniti

2.Casting Light Tackle

- Reel: Spinning, Shimano Sienna 2500, Drag Max ±5 kg, Drag yg dipake 1.5-2.5 kg (30-50% dr Drag Max Reel)
- Rod: Shimano Scimitar 6’, 6-12 lbs
- Line: PE Paladium Colour 15 lbs, (±120% kekuatan Rod) & ( lebih besar ±3x lipat dr Drag yg dipake)
- Leader: Awashima Hypercast C+, 0.35 mm, 15.4 kg
- PE-Leader: FG Knot
- Leader-Lures: Kili2-Peniti

Dgn target ikan toman 1-3 kg, dlm beberapa kali strike, ada 3x yg hook up, ke3nya berakhir dgn putus pd pe dipertengahan bukan pd simpul/leader, mungkin krn cara casting toman yg cepat sehingga saat strike & hook up toman langsung fight sekuat tenaga, padahal rod masih dlm keadaan ditarik & drag belum sempat keluar (drag diset rendah pun pe tetap putus), jadi kalo cuman mengandalkan pe 20 lbs sepertinya tdk mencukupi, mengingat pe rentan putus thdp sentakan.

Cara casting toman yg saya pake sangat cepat:

1. Tarik Rod menyamping (±25-30cm(short stroke)), jeda (sesaat, sambil) gulung Reel 1x-Rod kembali keposisi awal (panjang tarikan rod disesuaikan dgn rasio reel), cara ini kurang efektif krn jeda terlalu cepat jadi toman selalu telat menyambar lures.
2. Tarik Rod menyamping (±50-60cm/±75-90cm(long stroke)), jeda (sesaat, sambil) gulung Reel 2x/3x-Rod kembali keposisi awal (panjang tarikan rod disesuaikan dengan rasio reel), cara ini sangat efektif krn jeda agak lama jadi toman masih sempat menyambar lures.
Catatan: Kalo casting dgn cara lambat seperti kita casting pd ikan gabus & bawal, ikan toman enggan menyambar lures.

Akhirnya setelah kecewa berkepanjangan, tackle saya ubah:
1.Casting Heavy Tackle
- Reel: Spinning, Sabpolo 3000, Drag Max ±8 kg, Drag yg dipake 2-3 kg (30-50% dr Drag Max Reel)
- Rod: Pioneer Perpect Cast 7’, 8-10 kg
- Line: PE Paladium Colour 30 lbs, (±190% kekuatan Rod) & ( lebih besar ±10x lipat dr Drag yg dipake)
- Leader: Awashima Hypercast C+, 0.50 mm, 34.7 kg
- PE-Leader: FG Knot
- Leader-Lures: Rapala Knot
2.Casting Light Tackle
- Reel: Spinning, Shimano Sienna 2500, Drag Max ±5 kg, Drag yg dipake 1.5-2.5 kg (30-50% dr Drag Max Reel)
- Rod: Shimano Scimitar 6’, 6-12 lbs
- Line: PE Paladium Colour 30 lbs, (±250% kekuatan Rod) & ( lebih besar ±12x lipat dr Drag yg dipake)
- Leader: Awashima Hypercast C+, 0.50 mm, 34.7 kg
- PE-Leader: FG Knot
- Leader-Lures: Rapala Knot

Saya pake tackle yg tdk balance menurut teori ini, krn dilapangan hasilnya jauh berbeda, dgn modal nekat akhirnya saya bisa dapet ikan toman memakai Casting Tackle Heavy 2 ekor (3.2/1.2kg), Casting Light Tackle 2 ekor (2/1.5kg), tanpa ada kendala pada tackle saya.

Jadi menurut saya teori & praktek dilapangan sangat jauh berbeda kalo dilihat dr berbagai sisi, sebelum & sesudahnya saya mohon maaf kalo ada yg salah, saya menginginkan saran & kritikan utk kesempurnaan cara ini, terima kasih.
Source : http://kailpancingwow.blogspot.com

Tips casting Toman Cirata ala Musyen

Tips casting Toman Cirata ala Musyen  Toman Cirata ala Musyen

Tips casting Toman Cirata ala Musyen
Musyen dengan Toman hasil casting di waduk Cirata

Waduk Cirata merupakan PLTA terbesar di asia tenggara, terletak di daerah aliran sungai (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Sedangkan luas Waduk Cirata, dari ujung selatan kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, dan terbendung di desa Ciroyom, kecamatan Cipeundeuy kabupaten Bandung barat, yang berbatasan langsung dengan maniis Kabupaten Purwakarta.
Selain sebagai pembangkit listrik, waduk cirata berfungsi sebagai sumber irigasi, dan sebagai tempat wisata, salah satunya yaitu wisata mancing.
Karena di waduk Cirata banyak terdapat jenis jenis ikan yang begitu poppuler di kalangan pemancing, karena terkenal memiliki sensasi yang luar biasa, seperti toman, hampala, red devil, patin, bawal dan mujair bagi para mania mancing pecinta frash water, baik dengan teknik casting maupun dengan menggunakan tegek.

Sedangkan dari jenis jenis ikan penghuni waduk Cirata, jenis ikan Toman lah yang sekarang ini benar benar menjadi primadona, dan selalu di buru oleh para castinger, baik dari daerah bandung maupun luar daerah, asal mulanya nya spesies ikan toman ini bisa ada dan berkembang biak di waduk Cirata masih simpang siur,

Dari beberapa sumber yang kami peroleh, terutama dari para pemancing traditional di daerah bandung, menceritakan bahwa dulu ada yang memelihara toman di salah satu keramba di waduk Cirata, yang kemudian jebol sehingga bibit ikan toman lepas dan berkembang biak di waduk Cirata, dari sumber lain menceritakan awal mula toman ada waduk Cirata, yaitu pada masa pemerintahan Presiden Soeharto pernah di tebar benih ikan beberapa Ton dengan menggunakan kontainer, dalam satu kontainer tersebut ada tercampur bibit ikan toman,

Dari satu sumber lain menceritakan, dulu di waduk Saguling (di atas waduk Cirata) pernah ada keramba ikan toman yang jebol, yang akhirnya jadi penghuni tetap di waduk Cirata tersebut.

Entah cerita dari sumber mana yang benar, tapi pada kenyataannya saat sekarang ini ikan toman menjadi salah satu penghuni waduk Cirata.

Adanya spesies toman sendiri di Cirata banyak menimbulkan Kontroversi, karena toman merupakan jenis predator buas yang akan memangsa spesies ikan lain dalam satu lokasi, yang di takutkan akan menggangu keseimbangan ekosistem di Waduk Cirata,

Tapi setelah berjalannya waktu, ternyata hal itu tidak terbukti dengan hilangnya beberapa spesies ikan lain di waduk Cirata, malah para mania mancing bisa menikmati sensasi mancing ikan toman, yang dulunya para mania mancing di daerah Pulau Jawa hanya bisa ngiler melihat postingan postingan ikan toman dari para mania mancing dari luar Jawa.

Menurut keterangan dari salah satu sobat angler yang melakukan explore di waduk Cirata, yaitu Musyen yang namanya cukup tersohor di dunia casting,  telah melakukan explore  sekitar tahun 2011 selama 6 bulan, hingga bertemu spot spot yang potensial dan banyak di huni ikan ikan toman, dan pernah menaikan toman terbesarnya kurang lebih 7 kilogram, sedangkan jenis toman yang pernah tertangkap oleh warga kurang lebih sekitar 15 kilogram, ukuran yang cukup fantastis untuk spesies toman.
Tips casting Toman Cirata ala Musyen
Toman seberat 7 kg yang berhasil landed di waduk Cirata

Nah bagi sobat angler yang ingin merasakan sensasi mancing ikan toman Cirata, silahkan simak tips tips berikut ini hasil wawancara langsung dengan Musyen yang di kenal sebagai juru kunci toman Cirata, karena lokasi lokasi untuk lanbase casting masih cukup rawan dan berbahaya, masih banyak terdapat jenis binatang melata seperti ular tanah dan binatang lain yang mungkin akan membahayakan bagi sobat angler sendiri.

Tips casting Toman Cirata ala Musyen

Tips casting Toman Cirata ala Musyen
Musyen berpose dengan Toman tangkapannya

Toman merupakan salah satu predator pemangsa daging, teknik mancing toman pun beraneka ragam bisa menggunakan teknik casting, maupun dengan memakai umpan dengan teknik dasaran.

Untuk teknik casting pemilihan umpan, cara retrive, dan juga ketepatan lemparan menjadi faktor yang benar benar harus di perhatikan, untuk jenis umpan yang biasa di gunakan yaitu buzzbait, jump frog, soft frog, mini popper, wtd dan beberapa jenis lainnya, 

Cara retrive pun harus agak cepat karena toman jarang menyukai umpan yang bergerak lambat, bahkan ketika toman mulai terlihat mengejar lure, cara retrive harus semakin di percepat, jika karena tertegun melihat ganasnya toman mengejar lure, dan retrive kita menjadi tidak konstan bahkan cenderung lambat, biasanya toman akan berhenti mengejar lure kita, kalau menurut logika tidak ada ikan yang mau pasang badan ketika akan di mangsa predator lain ..ha.ha..ha....ha

Peralatan yang yang digunakan bisa menggunakan joran casting, baik menggunakan bait casting ataupun spinning, yang tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing, (baca Belajar Casting yuk), untuk ukuran joran dan reel sama seperti peralatan yang di pakai untuk casting gabus dengan line minimal PE 3.


Menentukan spot dan waktu terbaik mancing toman

Tips casting Toman Cirata ala Musyen
Toman primadona baru waduk Cirata

Cara mengetahui daerah yang biasa di huni ikan toman, yaitu dengan cara mengamati setiap pergerakan di suatu lokasi, biasanya lokasinya agak sepi bahkan cenderung tidak terlihat adanya kehidupan, amati terus lokasi tersebut hingga ada tenggakan dari toman, karena toman pada waktu tertentu akan naik ke permukaan untuk bernafas,

Waktu terbaik ketika kondisi air mulai surut, karena disitu ikan akan terkonsentrasi, biasanya pada waktu pagi dan sore hari toman akan lebih agresif mencari makan.

Pada saat siang hari biasanya kondisi air terlalu panas karena sinar matahari, sehingga toman memilih tempat di pinggir pinggir waduk atau bersembunyi di bawah eceng gondok, keramba rusak atau pohon pohon berduri, pada saat seperti ini toman bisa di pancing menggunakan teknik dasaran memakai umpan berupa daging, baik daging ayam atau sejenisnya.

Jadi ketika menentukan spot untuk casting toman cari spot yang agak terbuka, di antara tumbuhan air seperti eceng gondok dan sejenisnya dimana pada saat saat tertentu tumbuhan air ini menjadi tempat persembunyian toman.

Untuk memancing toman di waduk Cirata, yang paling mudah yaitu menggunakan kapal, untuk menuju ke spot spot yang susah di jangkau dengan jalan darat, selain itu untuk menghindari resiko resiko yang mungkin timbul, karena harus melalui medan medan yang berat, becek dan masih banyak terdapat binatang binatang melata yang berbahaya, kemudian setelah sampai ke tempat yang di tuju dan enak untuk landbase baru kita turun ke darat sambil menunggu adanya tenggakan tenggakan dari toman, jika sudah terlihat adanya tenggakan, segera hujani spot dengan berbagai jenis lure hingga toman benar benar tertarik untuk menyambar.
Tips casting Toman Cirata ala Musyen
Toman Hasil casting di Wasuk Cirata
Untuk sewa kapalnya tergolong murah sekitar 250 ribu mulai pagi hingga sore hari.

Nah itulah sedikit tips casting toman di cirata ala musyen, selain ikan toman masih banyak jenis predator lain yang bisa di jadikan target di waduk Cirata antara lain bawal, patin, sepat, nila, golsom, red devil, dan hampala yang akan saya ulasan pada kesempatan mendatang terima kasih salam strike.


MONSTER TOMAN WADUK CIRATA

MONSTER TOMAN WADUK CIRATA


MONSTER TOMAN WADUK CIRATA




TwitterWhFaceboo
Nama waduk Cirata selalu membawa kesan mendalam bagi para pegiat casting. Pesona pemandangan serta besarnya potensi ikan yang ada masih menjadi daya tarik tersendiri dalam mendatangkan para castinger dari berbagai daerah. Adalah predator air tawar seperti Toman, Hampala serta Red Devil merupakan spesies ikan penghuni salah satu waduk terbesar se-Asia Tenggara tersebut.
Pada september lalu, beberapa anggota dari Komunitas Mancing Tegal-Brebes (MTB) mencoba berburu predator-predator air tawar penghuni Cirata. Jaringan yang besar di dalam komunitas itu membuat para anggotanya yang tersebar di Karawang, Bandung hingga Purwokerto rela datang untuk meramaikan trip yang biasa dilakukan oleh divisi freshwater. “Jadwal pada trip ini diawali dengan berburu Toman dan Hampala pada pagi dan sore hari, sementara pada saat matahari muncul hingga menjelang petang diselingi dengan memancing Red Devil,” ungkap Yongky Ramabharata, ketua dari MTB.
Hampala
Ardani memulai perburuan dengan melempar lure menggunakan alat baitcasting miliknya. Beberapa kali umpan dilempar dan kemudian digulung belum ada juga sambaran dari dasar air. Sampai akhirnya ada sesuatu yang menyambar stickbait Ardani. Strike!!! Tarik menarik terjadi. Terlihat rupanya seekor Hampala yang merasa terganggu dengan umpan yang beberapa kali dilempar. Namun sayang Ardani belum beruntung karena ikan sudah terlebih dahulu melepaskan diri dari hook.
Hampala merupakan salah satu target dan ikan favorit para castinger. Ikan ini diketahui menyebar di seluruh kawasan Asia Tenggara mulai dari Thailand hingga pelosok Indonesia bagian barat. Predator air tawar dengan nama lain Hampala macrolepidato merupakan anggota suku Cyprinidae atau masih kerabat ikan mas. Para castinger menyukai berburu Hampala karena ikan tersebut terkenal memiliki perlawanan yang kuat ketika hookup.
Baik stickbait hingga popper terus menerus dan silih berganti dilempar oleh masing-masing pemancing. sudut-sudut waduk yang sekiranya menjadi ekosistem predator air tawar menjadi target mereka dalam melempar lure-lure tadi. bukan tanpa hasil, hingga menjelang siang hari hanya Gabus dengan ukuran kecil yang berhasil didapatkan. Tentu jauh dari keinginan awal yang menargetkan ikan-ikan dengan bobot besar.
Red Devil

ardani berpose dengan ikan Red devil
ARDANI BERPOSE DENGAN IKAN RED DEVIL

Perburuan Toman pada sesi pagi hari sudah selesai. Kali ini seperti jadwal sebelumnya, tim akan mencoba berburu Red Devil. Ikan dengan nama latin Cichlasoma Labiatum ini termasuk spesies Louhan dan kerap dijumpai di spot-spot liar. Mayoritas warna merah pada bagian tubuhnya menjadi identitas dalam penyebutan nama ikan hias tersebut.
Kembali umpan dilempar menuju spot-spot pilihan. Finess micro jig dengan ukuran 3-7 gram menjadi senjata andalan dalam upaya menarik perhatian Red Devil. Inilah hebatnya MTB, komunitas tersebut memiliki satu orang anggotanya bernama Rudi Hartono yang bertindak sebagai Research and Development Department. Ia biasa melakukan segala macam riset seperti membuat finess micro jig yang digunakan pada trip kali ini.
Beberapa kali umpan dilempar akhirnya ada sambaran dari bawah air. Strike!!! dengan sigapnya, Adie Margie terus menakukkan perlawanan ikan. Red Devil dengan ukuran sekitar 20 cm ternyata menyukai umpan buatan Rudi dan berhasil ditaklukkan. “Pemancing konvensional setempat sampai terheran-heran dan bertanya, kok mau ya Red Devil memakan besi (micro jig)?” jelas Yongky sambil menyontohkan pernyataan warga sekitar.
Ardani Latief juga tak mau ketinggalan. Joran miliknya yang sedari tadi ia genggam melengkung tajam tanda strike terjadi. Pemancing dari Purwokerto itu berusaha secepat mungkin menaklukkan ikan. Gagang ril yang diputar bersamaan dengan gerakan naik turun joran, dilakukannya terus menerus hingga akhirnya diketahui ia mendapatkan Red Devil kedua.
merasa sudah cukup puas mengaplikasikan micro jig dengan ultra light tackle untuk Red Devil, perburuan kembali kepada target Toman. Kali ini tim mengganti peluru dengan jump frog karena alasan spot yang ditumbuhi banyak eceng Gondok.
Toman
Seperti biasa, beberapa kali lemparan yang dilakukan belum membuahkan hasil karena casting membutuhkan usaha serta kesabaran ekstra. Tak lama kemudian kejutan datang. sedang serius melempar jump frog, tiba-tiba Yongky merasakan sambaran. Suara riak air menciptakan kericuhan hingga membuat eceng Gondok disekitarnya berhamburan. sepertinya Yongky strike ikan besar.
Perlahan joran dipompa bersamaan dengan perputaran ril. Dengan modal rod 10-20lbs, pe 1.5, serta leader 20lbs Yongky nampak kewalahan saat itu. Piranti seperti itu membuatnya kewalahan meladeni perlawanan ikan ditambah masih banyaknya eceng Gondok yang menghalangi.

Yongky ramabharat berpose dengan toman
YONGKY RAMABHARAT BERPOSE DENGAN TOMAN

Sampai salah seorang warga sekitar rela menyingkirkan tumbuhan air tersebut agar ikan mudah untuk ditarik. Pelan namun pasti, ikan berhasil ditarik mendekat. Ketika nampak dari pandangan sejauh 2 meter ternyata seekor Toman memakan jump frog milik Yongky. Sepertinya ini adalah monster Toman penguasa wilayah waduk Cirata yang sudah lama ada. Ketika berhasil ditaklukkan, pengukuran pun dilakukan. Sebagian orang yang melihat kemudian menduga-duga panjangnya. Yang jelas ketika diukur, lip grip milik Yongky tak mampu menahan bobot predator tersebut. Untuk itu digunakanlah meteran dan ketika diukur Toman tersebut memiliki panjang hingga 93 cm.
Warga sekitar yang menyaksikan dan mengetahui panjangnya pun takjub. Menurut kesaksian dari sebagian mereka, belum pernah ada Toman dengan besar seperti yang Yongky dapatkan itu. Secara pribadi, Yongky merasa bangga karena berhasil menaklukkan monster Cirata yang menjadi targetnya sejak awal. Kejutan di penghujung waktu pada trip kali ini rupanya juga membuat rekan-rekan Yongky lainnya ikut merasa puas. Tak lama kemudian senja semakin redup menciptakan kelopak jingga di ufuk barat. Pose foto bersama dengan ikan hasil tangkapan menjadi kegiatan penutup.– Yongky Ramabharata
Melacak Lokasi ‘Ngumpetnya’ Gabus Saat Mancing Casting

Melacak Lokasi ‘Ngumpetnya’ Gabus Saat Mancing Casting

Melacak Lokasi ‘Ngumpetnya’ Gabus Saat Mancing Casting



Kabarmancing.com, Jakarta – Kembali membahas tentang mancing ikan gabus dengan teknikcasting. Ya, dua hari yang lalu kabarmancing.com sudah mengulas tentang umpan apa saja yang digunakan untuk casting gabus (Judul : Beragam Jenis Umpan Untuk Casting Gabus) dan kali ini akan mengulas spot-spot ikan gabus saat Anda akan memancingnya.
    Dilihat dari karakter ikan yang satu ini, gabus kurang menyukai perairan terbuka dengan tanpa tempat persembunyian kecuali saat ia sedang menjaga anak-anaknya. Nah, untuk lebih jelasnya berikut kiat atau cara memilih spot casting gabus :

  • Casting Menyusur Pinggiran Kolam atau Rawa
    Seringkali ikan gabus menunggu mangsanya dari pinggir sungai atau kolam sambil bersembunyi di balik tanaman yang ada di pinggir perairan.

  • Casting Menyusur di Pinggir Tanaman Air  
    Ikan gabus memiliki karakter ‘sembunyi, mengintai dan menyerang secara tiba tiba’ dan tanaman air menjadi tempatnya bersembunyi menunggu mangsanya yang lewat.

  • Casting Menyusur Diatas Batang-Batang Pohon Rebah di Dasar Air  
    Batang-batang rebah adalah tempat yang baik buat gabus bersembunyi dan berlindung, sehingga jika terkena pancing ia akan berjuang untuk kembali ke tempat berlindungnya.

  • Casting Diatas Tanaman Air yang Memiliki Celah-Celah Air Terbuka
    Jika rawa memiliki banyak tanaman air maka celah-celah tanaman air inilah gabus menunggu mangsanya yang melewati celah air ini. Tetapi hanya umpan kodok sintetis dan katak karet saja yang dapat dimanfaatkan untuk memancing gabus di spot yang penuh dengan tanaman air.

  • Casting di Tempat Anak Gabus Bermain  
    Keluarga ikan Sneak head merupakan ikan yang sangat ganas jika melihat anak-anaknya diganggu. Maka induknya akan segera menyerang pengganggunya, Dan seringkali yang menyambar umpan adalah gabus yang berukuran besar.

    Ya, keasikan casting gabus yaitu ketika air ‘meledak’ karena umpan disambar, kadang disertai lompatan yang cukup tinggi, sambaran yang sangat cepat yang kadang mengagetkan dan tak terduga. Gabus dapat menjadi salah satu ikan yang menjadi target memancing Sport Fishing Fresh Water dengancasting yang sangat menyenangkan.
    Karena populasi ikan ini terus merosot karena perkembangan pertumbuhan penduduk yang mengkonversi rawa dan danau menjadi lahan property dan pertanian serta pertambangan yang menyebabkan semakin terbatasnya habitat dari ikan gabus. Metode Catch and Release sebaiknya dilakukan demi menjaga populasi ikan dan alangkah baiknya lagi jika kita mengambil ikan secukupnya dan me-release kembali terutama indukan ikan agar populasinya tetap baik dan terjaga.(ekoardi/foto:dok.kabarmancing.com)

Casting Gabus di Spot Tambak Liar Surabaya

Casting Gabus di Spot Tambak Liar Surabaya



Casting Gabus di Spot Tambak Liar Surabaya


Hobbymancing.com – Salam strike… !!!
Memancing ikan gabus itu sangat menyenangkan. Selain spot yang mudah dijumpai, perlawanan ikan dan gaya bertarungnya sangat menegangkan. Lumayan bisa memompa adrenalin kita. Apa lagi yang strike ikan Gabus indukan, saya jamin bikin ketagihan, apalagi kalau lepas hahaha, gak bisa tidur ( pengalaman menyedihkan penulis hehehe ). Waktu makan ikan juga bisa dibilang gak ada matinya, mau subuh, siang, sore, bahkan malam hari juga oke oke saja. Tapi saya pribadi suka yang subuh-subuh, segarrrrrr dan ganasssss ikannya hehehe, yang setuju bilang ehem 🙂 dan tekniknya tentu saja saya suka casting, memakai lure. Bisa pakai jump frog, soft frog, minnow, half solid dan masih banyak lagi. Beli disini juga bisa www.castingmastershop.com . Nanti saya bahas di artikel saya lainnya tentang macam-macam lure dan kegunaanya, klik …


Casting Gabus Di Spot Tambak Liar Surabaya

Mantab kan foto saya hehehe, itu bolos kerja demi hasrat mancing wkwkwkwk ampun bosss.
Nah kita Lanjut karena mau bahas  artikel Casting Gabus Di Spot Tambak Liar Surabaya. Kalau peralatan sudah ready maka yang penting adalah memilih spot. Mungkin spot kolam, spot tambak, spot sungai, spot rawa atau lainnya. Kalau saya jujur suka yang liar, seperti sungai/ rawa atau tambak liar yang tak terawat dan belum dijamah manusia hahaha serem ahhh. Dimanakah itu spotnya ? penasaran ya ? hehe sabar bro, spot di Surabaya sangat banyak. Bahkan Sidoarjo, Gresik dan Madura sangat potensial. Komunitas Caster sangat banyak di Surabaya. Ada Caster Brotherhood, ada C2 ( Caster Community) dedengkotnya para master casting Surabaya. cari saja di facebook lalu join cast bareng hehe coba klik di sini Caster Brotherhood


Casting Gabus di Spot Tambak Liar Surabaya

Kembali lagi. Spot tambak liar terbentang di Surabaya timur, daerah medokan, rungkut, gunung anyar dan sekitar, lalu di Surabaya barat daerah benowo, dan lingkar timur Sidoarjo dan banyak lagi. Nah untuk ini saya mohon maaf tidak kasih spesifik karena saking banyaknya spot. Kalau musim hujan tambah buanyak lagi hehehe. Lagian tidak ada alamatnya, kan masih tanah gitu hehe. tapi jangan kuatir kalau mau join silahkan kontak teman-teman komunitas caster tadi. asik-asik kok tenang saja.
So gitu dulu ya guys, sampai jumpa di artikel selanjutnya. Salam Strike … !!!